Anak yang suka jajan, tentu bisa membuat orang tua ‘sakit kepala’. Selain boros, kebiasaan jajan juga tidak sehat dan bisa membuat anak rentan terserang berbagai penyakit.

Akan tetapi, anak yang suka jajan tidak bisa serta merta disalahkan Moms. Karena bisa saja bagi si kecil, aneka jajanan di luar lebih menarik ketimbang makanan yang diolah dan disajikan di rumah.Bahkan bisa saja, anak suka jajan karena mencontoh perilaku orang-orang dewasa di sekitarnya. Misalnya karena sering melihat orang tuanya juga membeli jajanan di minimarket, warung atau orang tua yang tidak terbiasa makan makanan buatan rumah.Penyebab lainnya? Ada juga anak yang suka jajan karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Saat memasuki usia pra-sekolah, minat anak untuk bereksplorasi sangat tinggi. Jadi tidak heran jika mereka melihat sesuatu yang menarik, ia akan langsung tertarik untuk mencoba atau menirunya.

Belum lagi jika anak melihat teman-temannya selalu membeli jajanan di sekolah atau lingkungan rumah. Anak-anak bisa saling bertukar cerita dengan teman-teman dan saling bertukar jajanan yang dimilikinya sebagai bagian dari bagaimana mereka menjalin pertemanan. Maka wajar saja bila anak lantas ingin mengikuti dan akhirnya jadi terbiasa jajan juga.

Lantas bagaimana cara kita mengatasi sikap anak yang suka jajan, Moms? Coba ikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Beri Aturan

Menyayangi si kecil, bukan berarti harus dengan memanjakan segala keinginannya. Tak terkecuali untuk urusan jajan ini.

Anda bisa mulai membuat aturan soal kebiasaan jajannya itu. Katakan pada anak, “Kamu boleh jajan kalau sudah menghabiskan makan siang yang sudah Ibu sediakan.” Bila perutnya sudah kenyang dengan makanan sehat yang Anda sediakan, keinginannya untuk jajan mungkin akan jauh berkurang.

Anda juga dapat memberikan aturan-aturan lain yang mudah dipahami anak. Misalnya aturan tentang apa saja jajanan yang boleh dan tidak boleh dibelinya, bolehkah ia menerima atau mencicipi jajanan milik teman, di tempat atau warung mana saja ia boleh membeli jajanan dan sebagainya.

2. Tawarkan Alternatif

Coba beri anak alternatif jajanan. Misalnya dengan membuatkan atau menyediakan camilan sehat yang enak dan tidak kalah menarik di rumah. Katakan pada anak, “Setelah makan kamu boleh membeli satu bungkus wafer di warung depan komplek. Tapi kalau kamu mau makan bolu keju buatan Ibu ini, boleh makan sepuasnya!”

3. Dampingi Anak saat Nonton TV

Mendampingi anak saat nonton televisi tidak hanya untuk memastikan ia menyaksikan tayangan yang baik dan sesuai usianya tapi juga agar Anda dapat menjelaskan pada anak tentang iklan-iklan produk yang mungkin menarik minat anak, Moms.Jelaskan pada anak bahwa iklan-iklan tersebut memang dibuat untuk menarik minat orang untuk membeli namun tidak semua yang ditampilkan oleh iklan baik untuknya. Bila anak sudah lebih besar Anda juga bisa menjelaskan pada anak lebih lanjut mengapa ada jajanan yang tidak baik untuknya. Misalnya karena mengandung gula yang terlalu tinggi atau tidak bergizi.

4. Apresiasi

Jangan lupa beri anak apresiasi bila ia berhasil mengurangi jajan ya, Moms. Pujilah anak dengan jelas agar dia mengerti, “Ibu bangga deh, melihat kamu sudah bisa mengurangi jajan. Kamu jadi enggak gampang sakit dan bisa menabung. Kalau tabungannya sudah banyak nanti, kamu bisa beli sepeda!”

Artikel ini telah tayang di : kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *