Setiap anak paling tidak suka dimarahi loh, Ma. Tapi sering kali melihat si Anak bertingkah laku menjengkelkan, emosi Mama tiba-tiba meluap dan akhirnya ditumpahkan ke anak. Duh, kalau di rumah Mama sering marah bisa-bisa si Anak jadi enggak betah loh di rumah, Ma.

Yup, Mama memang seorang manusia biasa yang bisa marah. Mungkin Mama balik bertanya: Apakah ada orang yang tidak pernah marah?

Tentu jawabannya mungkin tidak ada, Ma. Namun yang terpenting bukan marah itu sendiri, melainkan bagaimana mengendalikan amarah Mama. Pasalnya, jika Mama berhasil mengendalikan amarah, segala hal tentu menjadi lebih mudah.

Sebagai orang tua, Mama memang dituntut untuk lebih bersabar. Bukan hanya pada satu atau dua hal saja, melainkan banyak hal, Ma.

Informasi cara mendidik anak yang Mama dengar dari orang lain terkadang terkesan rumit. Tapi sebenarnya pada praktiknya tidak semua hal bisa dilakukan dengan sempurna, Ma.

Dari semua itu, yang paling sulit adalah menahan diri dan bersabar, Ma. Mungkin tipe orang yang seperti ini pasti sudah melewati berbagai fase dalam dirinya, dari yang mulanya mudah emosi hingga bisa menahan emosi. Sebab, mengubah menjadi penyabar tidak bisa dilakukan dalam satu malam, Ma.

Berikut caranya :

1. Menenangkan diri

Ketika si Anak bertingkah laku mengesalkan atau membuat kecerobohan, cobalah untuk menenangkan diri. Caranya bisa dengan menarik napas panjang perlahan-lahan, tahan sebenar, dan embuskan secara perlahan. Mama bisa mengulangi cara ini beberapa kali.
 
Mengatur ritme napas berulang-ulang seperti itu bisa membuat Mama lebih rileks dan tidak terfokus pada amarah. Pikiran Mama pun jadi jernih dan tenang. Nah, untuk membuang sisa amarah yang ada, Mama bisa memikirkan hal-hal positif yang pernah dilakukan si Anak.

2. Mengajak berkomunikasi

Setelah Mama berhasil mengendalikan emosi, segeralah ajak si Anak berkomunikasi, Ma. Tanyakan kenapa ia melakukan hal tersebut, dengarkan baik-baik, dan berikanlah pendapat bahwa perbuatan ia tidak baik atau jangan dilakukan lagi.

Pergunakan kata-kata yang netral dan hindarkan kata-kata yang bisa memancing amarah Mama.

Yang penting terutama adalah Mama bisa memahami karakter si Anak. Sebagai orang tua, Mama harus tahu mana hal yang disukai dan yang tidak disukainya.

Berikan pengertian bahwa tindakan A boleh dilakukan dan tindakan B tidak boleh dilakukan.

Berikan alasan agar anak paham mengapa Mama tidak suka jika dirinya berbuat seperti itu.

3. Membayangkan anak seperti bayi

Ketika Mama marah dan hampir tidak bisa mengontrolnya, cobalah untuk mevisualkan si Anak menjadi bayi. Cara ini dinilai ampuh untuk mengurangi emosi berlebih Mama. Dengan membayangkan si Anak sebagai bayi yang dulu begitu Mama sayangi dan selalu mendapat perhatian lebih, rasa marah Mama perlahan-lahan bisa mereda.

Mama bisa mempergunakan cara ini jika hendak marah. Meski marah adalah manusiawi, tetap saja Mama harus bisa menahan diri dan berpikir jernih sekalipun si Anak benar-benar membut Mama jengkel. Selesaikanlah masalah Mama dengan si Anak dengan cara yang lebih “tenang” tanpa dibumbui amarah.

4. Mengambil jarak

Setiap ibu yang marah ibarat sumbu kompor yang terbakar, tetapi setiap ibu memiliki panjang-pendek sumbu yang berbeda-beda, Ma. Cara agar sumbu amarah Mama tidak pendek adalah dengan tidak mudah terpancing emosi. Bagaimana caranya?

Ketika amarah Mama akan meledak, usahakan mengambil jarak dengan si Anak. Mama bisa mengambil waktu untuk beristirahat dengan keluar ruangan. Ambillah jeda waktu beberapa menit untuk menenangkan diri. Dengan memberikan jarak literal dari situasi yang penuh dengan amarah, emosi Mama bisa pulih lebih cepat.

5. Meminta maaf pada anak

Misalkan emosi Mama sudah tak bisa ditahan lagi dan kemudian berakhir dengan meluapkan amarah, maka jangan pernah menyalahkan si Anak dan mengatasnamankan mereka sebagai pemicu marah. Jangan pernah katakan hal tersebut pada si Anak ya, Ma. Hal ini tentu akan bisa membuat si Anak jadi syok.

Jangan ragu-ragu untuk meminta maaf kepada si Anak ya, Ma. Ini juga penting agar si Anak tahu bahwa Mama bisa marah tetapi tak membenarkan marah sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Lebih baik langusng katakan kepada si Anak bahwa Mama kecewa dengan tindakan mereka dan jelaskan juga bahwa Mama tak seharusnya membentak mereka.

Ingat juga, Ma, jangan berlebihan ketika meminta maaf pada si Anak karena ia akan merasa bahwa dirinya menjadi korban atas kemarahan Mama. Mama hanya perlu mengatakan akan mencoba cara yang terbaik untuk mengatasi masalah tanpa harus marah.

Setelah itu, hiburlah si Anak dan melanjutkan aktivitas seperti biasanya, Ma. Hal ini juga berguna untuk menjaga hubungan Mama dan si Anak berjalan dengan baik seperti semula.

Artikel ini telah tayang di : popmama.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *