Pada anak yang masih berusia di bawah lima tahun, membuat mereka tidur bisa menguras waktu dan emosi. Jam sudah menunjukkan tengah malam tapi si kecil belum juga memejamkan mata. Hal ini mungkin dialami banyak orangtua,

Adam T. Newton, kandidat PhD Clinical Psychology, di Western University yang melakukan penelitian selama 30 tahun terkait kebiasaan tidur mengungkap pemicu alasan terbesar masalah tidur pada anak usia satu hingga 10 tahun.

Mengapa anak-anak mengalami masalah tidur? ” Ini pertanyaan kompleks. Kami mengidentifikasi hampir 60 faktor yang dapat berperan, dari 98 studi. Sepuluh faktor ini didukung dalam beberapa penelitian yang ketat,” kata Newton, dikutip dari The Conversation.

Faktor-faktor pemicu anak sulit tidur dibagi tiga, antara lain biologi, psikologi, dan lingkungan. Berikut penjelasannya.

Biologis

“Kami mengidentifikasi dua alasan mengapa anak-anak mengalami masalah tidur yang berasal dari aspek biologis mereka, yaitu temperamen dan usia mereka. Biologis ini melibatkan fungsi internal anak,” kata Newton.

Temperamen, atau watak, adalah kepribadian yang ada pada bayi atau anak. Bayi yang tampak lebih rewel atau mudah tersinggung dapat mengalami kesulitan merespons perubahan dan mungkin tidak mudah tenang. Bayi dengan tipe temperamen ini mungkin lebih cenderung memiliki masalah tidur di kemudian hari.

Ketika anak-anak bertambah besar, mereka cenderung memiliki masalah tidur. Ini mungkin karena otak mereka dapat mengelola proses yang diperlukan untuk menyelesaikan dengan lebih baik di malam hari, atau bahwa mereka lebih mandiri dalam rutinitas tidur mereka.

Psikologis

Aspek psikologis terkait masalah tidur pada anak melibatkan dua bagian: bagaimana anak-anak bertindak dan merasakan, dan bagaimana anak-anak dan orangtua berinteraksi satu sama lain.

“Kami menemukan enam alasan psikologis anak-anak mengembangkan masalah tidur: tiga berkaitan dengan bagaimana anak-anak bertindak dan merasa, dan tiga berkaitan dengan interaksi keluarga,” ungkap Newton.

Pertama, kita tahu bahwa anak-anak yang memiliki masalah tidur di awal kehidupan cenderung terus mengalami masalah tidur di masa kanak-kanak — kecuali perubahan terjadi.

Anak-anak dengan masalah kesehatan mental cenderung memiliki lebih banyak masalah tidur, bahkan jika tidak ada diagnosis. Ada dua kelompok masalah yang terkait dengan masalah tidur yaitu masalah internalisasi (seperti kecemasan dan depresi) dan masalah eksternalisasi (masalah dengan mengikuti aturan dan fokus).

Masalah internalisasi dapat mempersulit anak-anak untuk tenang dan tertidur, karena tingkat stres yang lebih tinggi. Masalah eksternalisasi dapat membuat aturan dan rutinitas menjadi lebih sulit untuk diikuti anak-anak, yang kemudian membuat sulit untuk tidur.

Bagaimana anak-anak dan orang tua mereka berinteraksi juga penting. Pada malam hari, orangtua yang tidur bersama anak mereka sampai mereka telelap cenderung memiliki anak dengan masalah tidur. Orangtua menjadi isyarat agar anak tertidur. Jadi, ketika seorang anak bangun di tengah malam dan ibu atau ayah tidak ada di sana, sulit untuk tertidur kembali.

Pada siang hari, orangtua yang memiliki aturan tidak konsisten di rumah, yang tidak memaksakan batasan pada anak-anak mereka atau yang bereaksi sangat kuat terhadap halangan kecil cenderung memiliki anak dengan masalah tidur yang lebih banyak. Orangtua yang bertindak dengan cara ini mungkin mengalami kesulitan menjaga anak mereka pada rutinitas tidur yang sama dari malam-ke-malam dan memiliki anak yang memiliki lebih banyak stres pada waktu tidur, membuatnya lebih sulit untuk tertidur.

Konsistensi juga penting di malam hari. Anak-anak dengan rutinitas tidur yang konsisten cenderung memiliki lebih sedikit masalah tidur daripada anak-anak dengan rutinitas yang tidak konsisten. Rutinitas tidur yang konsisten membantu anak-anak merasa aman, tenang, dan siap untuk tertidur.

Lingkungan

Lingkungan melibatkan bagaimana anak-anak dan orangtua berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Pertama, lebih banyak penggunaan elektronik dikaitkan dengan lebih banyak masalah tidur pada anak-anak.

Ini terutama terjadi ketika anak-anak menggunakan gadget di kamar mereka atau menjelang waktu tidur. Ini karena layar mencegah melatonin (hormon tidur) melakukan tugasnya, yang membuat kita mengantuk. Gadget juga dapat membuat pikiran anak-anak tetap waspada, terutama jika mereka bermain game atau menonton pertunjukan yang menarik.

Artikel ini telah tayang di : parenting.dream.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *